Home

Bupati

Profil  

Ragam Budaya

Periodisasi Sejarah Daerah Pangkep
Sejarah Daerah Pangkep tidak bisa dipisahkan dari sejarah daerah – daerah lainnya di Sulawesi Selatan karena saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Dalam Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia (R.M. Ali, 1963 dalam Mattulada, 1982:144), memajukan babakan waktu Sejarah Indonesia yang dapat digunakan untuk menentukan waktu dan tempat Sulawesi Selatan dalam penyejarahannya, yaitu :I.  …….    132 M :  Zaman Pra - Sejarah,  meliputi : Paleothicum,  Mesolithicum,  Neolithicum sebagai masa persemaian benih kebudayaan di Indonesia.II. 132 -  +  400 : Proto Sejarah, masa perkembangan kehidupan persekutuan adat sebagai dasar kehidupan kenegaraan.III. 400 – 1511        :  Masa timbul tenggelamnya kerajaan – kerajaan, dalam perebutan kekuasaan tunggal di laut maupun di darat.IV. 1511 – 1911      :         Pasang surut kekuasaan – kekuasaan di Indonesia, dalam perebutan kekuasaan tunggal antar Indonesia dan antar Indonesia dengan bangsa lain, yaitu perebutan kekuasaan Indonesia sendiri dan antara mereka dengan bangsa asing, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Perancis. V. 1911–17/8/1945: Masa perjuangan kemerdekaan, dalam bentuk politik Hindia Belanda untuk menegakkan Kemerdekaan Indonesia.VI. 17/8/1945 dst    :  Masa Pembangunan, Masa perjuangan mewujudkan  kehidupan  kebangsaan yang adil dan sejahtera.
Selengkapnya...
 
Kepercayaan Masyarakat Mengenai “Allo Nakasa”

Masyrakat Bugis Makasar pangkep juga memiliki kepercayaan mengenai hari-hari pantangan, yang lazim disebut “allo nakasa”. Hari-hari nakasa merupakan hari-hari yang dianggap terlarang melakukan berbagai macam kegiatan dan tindakan, terutama tindakan yang menentukan dalam hidup manusia, seperti penentuan hari menikah, memulai usaha dagang, memulai tanam padi (turun sawah),merantau atau bepergian jauh dan melakukan upacara-upacara adat. Nakasa terbagi 2 yaitu Nakasa tahunan dan nakasa bulanan. Nakasa tahunan jatuh pada tanggal satu syura (Muharram) dan dalam sepanjang tahun hari tanggal jatuhnya satu muharram itu dianggap “hari Nakasa”. Sementara , nakasa bulanan dilihat berdasarkan perhitungan tertentu, seperti perhitungan esso sibokoreng dan waktu hari pasar.

 
Kepercayaan masyarakat Tentang makhluk Halus

Meski dalam islam,hanya umum dikenal syetan dan jin sebagai penggoda manusia dalam berbuat amal kebajikan, namun bagi orang Bugis Makassar, terkadang lebih takut kepada “mahkluk halus” yang dianggap suka mengganggu dan menimbulkan malapetaka bagi manusia, seperti poppo (peppo), parakang, kalimpao, dan dongga(longga). Orang-orang tua Bugis Makasar juga terkadang menanamkan kepercayaan itu pada anaknya dengan berusaha menakuti-akutinya bahwa di suatu tempat, ada popponya, ada parakangnya dan lain sebagainya.Parakang sebenarnya berwujud manusia, tetapi dalam mencari mangsanya ia berubah wujud menjadi binatang, kerbau, sapi, atau anjing.

Orang yang menjadi “Parakang” biasanya tidak mengetahui bahwa dirinya parakang sebab yang berubah hanyalah rohnya. Parakang mengganggu mangsanya dengan memakan dan menyedot organ tubuh bagian dalam seperti hati, usus, dan jantung.(Ahmad Saransi,2003). Itulah sebabnya seperti lazim kita dengar, “parakkang paiso pallo”. Saat ini sudah jarang kita dengar orang memperbincangkan parakang ini. Terakhir kali penulis mendengarnya dari cerita penduduk pangkep sekitar tahun 1980-an.Tidak pernah juga ada keterangan mengenai orang yang mempunyai “ilmu parakan” itu. Cerita tentang parakan ini umumnya berkembang dari mulut ke mulut di daerah-daerah pedalaman. Karena itu, bisa jadi cerita tentang parakang ini hanya cerita rekayasa atau strategi orang-orang tua dulu untuk menentramkan anaknya agar tidak menangis atau dengan maksud lain.

 
Tradisi Je’ne – je’ne Sappara
 
Tradisi Perayaan 10 muharram (asyura)

Tradisi ini biasanya ditandai dengan ramainya masyarakat Bugis Makassar pada daerah-daerah pedalaman membuat bubur yang di sebut “jepe syura”. Bubur tersebut dihiasi dengan berbagai macam potongan-potongan panjang telur dadar warna-warni, tumpi-tumpi kecil, ikan, udang, dan lain sebagainya.

 
Tradisi Maleppe (Lebaran)

Tradisi ini bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Secara umum, tradisi dikenal dengan istilah “lebaran” atau “Maleppe”. Sesuai melaksanakan sholat idul fitri atau idul adha. Masyarakat berbondong-bondong saling mengunjungi satu sama lain sesama kerabat handai taulan. Kegiatan kunjung – mengunjung ini di sebut “assiara” (silaturahmi). Biasa pada rumah-rumah penduduk, umum disajikan makanan khas lebaran, seperti burasa, mandura atau ketupat(ketupat) serta sajian makanan ayam dan ikan bandeng. Pada masyarakat yang masih berbekas kepercayaan lamanya, sajian makanan lebaran tersebut terlebih dahulu harus “dibaca”oleh puang anre guru atau daeng imam (pemuka agama/imam).

 
Tradisi Memulai Mengaji dan Nipatamma

Tradisi ini berkenaan dengan permulaan mengaji bagi anak-anak di kampong yang “mengaji kampong”.Biasanya dipersyaratkan sebelum memulai mengaji di tuan guru atau pada “guru pangngaji”. Membawa pisang beberapa sisir kerumah sang guru. Pisang itu nantinya “di baca” dirumah sang guru. Sekarang ini, hantaran pisang adapula yang menggantinya dengan barang kebutuhan sembako, seperti beras atau gula untuk sang guru. Berbesa halnya dengan guru TK/TPA yang umum dikenal sekarang ini, sang guru mengaji (guru panggaji) ini biasanya tidak digaji tapi cukup di balas dengan keharusan anak – anak mengaji ini mengangkatkan air untuk kebutuhan sehari-hari sampai penuh tempat air (baranneng) sang guru. Dalam melakukan tugas ini, anak-anak mengaji saling berganti satu sama lain memenuhi air baranneng tersebut.

Setelah anak-anak mengaji ini menamatkan qur-an kecil (Dzuz amma) atau qur-an besar (30 djuz) maka dipersyaratkan untuk”Nipatamma”, yaitu tradisi mengakhiri suatu kumpulan bacaan dengan hantaran makanan berupa pisang beberapa sisir, makanan sokko’ (beras ketan), yang didalamnya terdapat ayam,telur dan lain sebagainya yang dibaca dalam satu “kappara”(wadah makanan yang disajikan).

 
Tradisi Berziarah

Tradisi berziarah biasanya dilaksanakan usai pelaksanaan acara penting dalam hidup seseorang, seperti usai melaksanakan acara perkawinan maka kedua mempelai mengunjungi kuburan (berziarah) ke makam keluarga dan nenek moyangnya. Tradisi berziarah umum dilaksanakan masyarakat usai melaksaakan sholat Idul Fitri. Sehabis dari masjid atau lapangan langsung menuju ke kuburan umum untuk menziarahi kuburan keluarganya. Disana mereka menabur bunga seraya memanjatkan doa keselamatan keluarga yang telah mendahuluinya serta keselamatan dan berkah bagi yang hidup.

 
Tradisi Perayaan Mulid Nabi, “Ammaudhu”

Dalam masyarakat Bugis makassar, masih sangat kental perayaan-perayaan hari-hari besar islam dengan nuansa dan warna sinkretisme, seperti perayaan Maulid nabi muhammad SAW dengan rentetan acaranya sebagai berikut:

  • Appakaramula
  • Ammone baku
  • Ammode baku
  • Angngantara kanre maudu
  • Pannarimang kanre maudu
  • A’rate (assikkiri)
  • Pammacang salawa
  • Pattoanang
  • Pabbageang kanre maudu

Perayaan hari – hari besar islam juga menghadirkan pembacaan :zikiri Barazanji”, selain maulid nabi adalah : Isra Mi’raj, sepuluh muharram, bahkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masih banyak masyarakat menyelenggarakan barzanji atau mengundang “pabaca doank” (pembaca doa, biasanya imam kampung atau anrong guru) kerumahnya untuk membacakan segala jenis da rupa makanan, yang diiringi bau asap kemenyan.

 
Tradisi Pembacaan Kitab Barzanji

Seperti diketahui. Agama islam masuk di Sulawesi Selatan dengan cara yang sangat santun terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat Bugis Makassar. Bukti nyata terhadap kesantunan Islam terhadap budaya dan tradisi Bugis Makassar dapat dilihat dalam tradisi-tradisi keislaman yang berkembang di Sulawesi Selatan hingga kini. Seperti tradisi mabbarazanji, yakni teradisi pembacaan Barzanji. Sebuah kitab yang berisi sejarah. Nabi Muhammad SAW dalam setiap hajatan dan acara doa-doa selamatan, bahkan ketika membeli kendaraan baru, dan lain sebagainya. Tradisi Mabbarazanji ini merupakan bukti terjadinya asimilasi damai antara budaya Bugis Makassar.

Sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan, setiap ada acara atau ritual adat maka seringkali diisi acara pembacaan naskah I La Galigo dan Meongpalo KarellaE. Tampaknya para penyebar agama Islam tidak bersaha mematikan kreatifitas tradisional orag Bugis Makasar, tapi mengislamkanya dengan jalan mengganti bacaan sejarah kehidupan Rasullullah muhammad SAW. Bukti lain adanya kenyataan bahwa Islam yang berkembang di Sulawesi Selatan adalah islam mistik, Konon ketiga penyiar islam. Datuk Ditiro, Datuk patimang, Datuk ri Bandang, memang sengaja diutus ke Sulawesi Selatan untuk menyiarkan islam, karena ketiganya adalah penganut islam yang kuat di bidang sufistik (tasawuf). Hal ini dimaksudkan untuk mensinergikan pengetahuan mistik masyarakan Bugis Makassar, yang notabene mereka pelajari dari naskah I La Galigo da Lontara-lontara peninggalan nenek moyang mereka.

Begitu pula pembacaan barzanji (mabbarazanji/akbarazanji) pada setiap perayaan siklud hidup, sebut saja midalnya perayaan : alahere (kelahiran anak), aqeqah (aqiqah),

Appasunna(khitanan), appatamma (menamatkan pendidikan atau bacaan al-quran), appabunting (perkawinan), menre bola (naik rumah), naik ri makkah (akan berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji), ammateang (kematian), da lain sebagainya. Pasa perayaan-perayaan tersebut diatas sangat sarat dengan simbol-simbol “kepercayaa lama”

 
Songka Bala

Songka Bala dipulau pajenekang (Upacara Selamatan). Menurut sejarah acara Songka bala ini berasal dari hajatan atau najar masyarakat pulau pajenekang atas di bebaskannya Gallareng Pajenekang yang ditawan oleh belanda di Makassar atas tuduhan mengibarkan bendera selain bendera Belanda.

Begitu cintanya masyarakat pulau Pajenekang terhadap pimpinannya maka masyarakat pulau pajenekang bernazar bahwa bila Gallarang Pajewnekang di bebaskan da perahunya dikembalikan oleh Belanda, mereka akan menunaikan nazarnya dengan melakukan upacara Songka Bala dengan bersiarah ke Makam Datuk Sulaeman.

Pada acara ritual ini diwajibkan membawa kue untuk setiap rumah tangga yang ada dipulau Pajenekang untuk dibawa saat ziarah dan dimakan bersama-sama.Upacara ini dilakukan setiap bulan Muharram tahun Hijiriah.

 
Keso-keso

(Kecapi dan tennong-tennong), pada mulanya permainan ini adalah permaian pakkampi Tedong atau penggembala kerbau. Belakangan kesenian jenis ini digelar pada gelar perkawinan dan acara lainnya. Pertunjukan kesenian jenis ini biasanya dimainkan pada malam hari oleh 3 orang pemain yakni masing-masing 1 orang pemain tennong-tennong, keso-keso, dan kecapi.

 
Gambus Turiolo

Umumnya gambus dikenal sebagai musik khas daerah pesisir.Jenis musik ini biasanya dipertunjuka pada acara kerajaan pada waktu menjemput tamu, pesta adat, dan acara pengantin. Seni trasidional yang bernuansa sakral ini dipentaskan umumnya pada malam hari dimainkan 7 sampai 12 orang yang diiring lagu Bugis atau makassar. Lagu diungkap dengan nada gembira dengan alat musik rebana, mandailing, gambus, dan gendang.

 
Komunitas Bissu

Bissu atau kamunitas bissu yang ada di Pangkep. Mereka masih memegang teguh tradisi dan peran sebagai pemelihara dan pelestari nilai-nilai budaya bugis klasik dan digambarkan sebagai manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan Supranatural.Mereka mendayagunakan hubungan dengan dunia roh dan bertindak sebagai media roh yang memasukinya. Setelah kerasukan barulah mereka dapat melaksanakan upacara ritual, seperti Maggiri sebuah ritual menikam diri sendiri. Bissu dengan tradisi transvestite-nya( lelaki yang berperan sebagai perempuan) juga dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno pra Islam. Mereka memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata dan para sesamanya.Keberadaan Bissu sebagai benang merah kesinambungan adat dan tradisi Bugis kuno yang masih eksis ditanah Bugis hingga dewasa ini.

Selain untuk acara kerajaan, peran bissu juga sangat dominan pada acara mappalili atau turun sawah. Upacara dilakukan selama tujuh hari tujuh malam dengan membaca mantera yang disebut dengan Mattesu Arajang yakni semacam ritual memohon restu Dewata dilangit. Menurut para bissu, hanya dengan restu Dewata para petani dan masyarakat dapat memperoleh hasil tanam yang baik. Oleh karena itu, acara mattedu Arajang dipandang sakral oleh masyarakat tradisional Bugis. Untuk diketahui bahwa komunitas Bissu pangkep tergolong Bissu Dewatae yang amat dihormati oleh komunitas bissu lainnya di tanah bugis. Dewasa ini Komunitas Bissu pangkep di pimpin oleh Puang Matoa SAIDI yang berkedudukan di ‘istana’ ArajangE Segeri Pangkep.

 
Upacara adat Kematian (Ammateang)

Upacara Adat Kematian (Ammateang) dalam adat Bugis Makassar merupakan upacara yang dilaksanakan masyarakat Bugis Makasar saat ada seseorang dalam suatu kampung meninggal, maka keluarga, kerabat dekat maupun kerabat jauh, juga masyarakat sekitar lingkungan rumah orang yang meninggal itu berbondong – bondong menjenguknya. Pelayat yang hadir biasanya membawa sidekka (Sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkan) berupa barang atau kebutuhan untuk mengurus mayat. Mayat belum mulai diurus seperti dimandikan sebelum semua anggota terdekatnya hadir. Nanti keluarga terdekatnya hadir semua, barulah mayat dimandikan, yang umumnya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memang biasa memandikan mayat atau oleh anggota kelurganya sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika memandikan mayat, yaitu pajenekang ( menyiramkan air ke tubuh mayat diiringi pembacaan do’a dan tahlil), pasuina ( menggosok bagian-bagian tubuh mayat), Pabbisina (membersihkan anus dan kemaluan mayat yang biasa dilakukan oleh salah seorang anggota keluarga seperti anak,adik atau oleh orang tuanya) dan pamaralui (menyiramkan air mandi terakhir sekaligus mewudhukan mayat). Orang –orang yang bertugas tersebut diberikan pappasidekka (sedekah) berupa pakaian si mayat ketika hidupnya lengkap dengan sarung,baju,celana, dan lain sebagainya. Mayat yang telah selesai dimandikan kemudian dikafani dengan kain kaci oleh keluarga terdekatnya. Setelah itu imam dan beberapa pengikutnya menyembahyangkan mayat menurut aturan Islam.

Sementara diluar rumah, anggota keluarganya membuat usungan (ulureng) untuk golongan ‘to sama’ (tau samara = orang kebanyakan) atau Walasuji ( untuk golongan bangsawan ) yyang terbentuk 3 susun. Bersamaan dengan pembuatan ulureng, dibuat pula cekko-cekko, yaitu semacam tudungan yang berbentuk lengkungan panjang sepanjang liang lahat yang akan diletakan diatas timbunan liang lahat apabila jenazahnya telah dikuburkan. Dan apabila, semua tatacara keislaman telah selesai dilakukan dari mulai memandikan, mengafani, dan menyembahyangkan mayat, maka jenazahpun diusung oleh beberapa orang keluar rumah lalu diletakan diatas ulureng.

              Ulureng diangkat keatas kemudian diturunkan lagi sambil melangkah ke depan. Setelah dilakukan 3 kali berturut-turut, dilanjutkan dengan perlahan-lahan diikuti rombongan pengantar dan pelayat mayat menuju areal perkuburan. Iring-iringan pengantar jenazah bisa berganti-gantian mengusung ulureng. Semua orang orang yang berpapasan dengan iringan pengantar jenazah harus berhenti, sedangkan orang-orang yang berjalan/berkendara dari belakang tidak boleh mendahului rombongan pengantar jenazah. Di perkuburan, sudah menanti beberapa orang yang akan bekerja membantu penguburan jenazah.

Sesampai dikuburan, mayat segera diturunkan kedalam liang lahat. Imam atau tokoh masyarakat kemudian meletakan segenggam tanah yang telah dibacakan doa atau mantera-mantera ke wajah jenazah sebagai tanda siame’(penyatuan) antara tanah dengan mayat.setelah itu, mayat ditimbuni mulai tanah sampai selesai. Lalu Imam membacakan talkin dan tahlil dengan maksud agar si mayat dapat menjawaban pertanyaan – pertanyaan malaikat penjaga kubur dengan lancar. Diatas pusara diletakan buah kelapa yang telah dibelah 2 dan tetap ditinggalkan diatas kuburan itu. Diletakan pula payung dan cekko-cekko’. Hal ini juga masih merupakan warisan “kepercayaan lama”(old belief) orang Bugis Makassar, bahwa meskipun seseorang telah meninggal dunia, akan tetapi arwahnya masih tetap berkeliaran. Karena itu, kelapa dan airnya yang diletakan diatas kuburan dimaksudkan sebagai minuman bagi arwah orang yang telah meninggal, sesangkan payung selain untuk melindungi rohnya, juga merupakan simbol keturunan.

Sekarang ini, ada kebiasaan baru setelah jenazah dikuburkan, yaitu imam atau ustadz dipesankan oleh keluarga orang yang sudah meninggal itu agar melanjutkan dengan ceramah dikuburan sebelum rombongan/pelayat pulang dari kuburan. Ceramah atau pesan-pesan agama yang umumnya disampaikan sekaitan dengan kematian dan persiapan menghadapi kematian, bahwa kematian itu pasti akan menemui/dihadapi setiap orang didunia ini dan karenanya, supaya mendapatkan keselamatan dari siksa alam kubur serta mendapatkan kebahagian didunia maupun di akherat, maka seseorang harus mengisi hari-hari kehidupannya dengan berbuat baik dan amal kebajikan sebanyak mungkin. Sebelum rombonga pengiring mayat pulang,biasanya pihak keluarga terdekat menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus penyampaian undangan takziah.

Semalaman, di rumah duka diadakan tahlilan dan khatam Al-Quran, yaitu membaca al-Quran secara bergantian. Dari sini mulainya bilampenni, yaitu upacara selamatan sekaligus penghitungan hari kematian yang dihitung mulai dari hari penguburan jenazah.Biasa dalakukan selamatan tujuh hari atau empat puluh harinya. Sekarang ini, upacara bilampenni sudah bergeser namanya menjadi tiga malam saja. Sebagai penutup, pada esok harinya dilakukan dzikir barzanji dan dilanjutkan dantap siang bersama kerabat – kerabat yang di undang. 

 
Upacara adat Mappaci

Upacara adat mappaci yang harus dilakukan dan merupakan rangkaian perayaan pernikahan Bugis Makassar yaitu Upacara adat Mappacci,dengan penggunaan simbol-simbol yang sarat makna akan menjaga keutuhan keluarga dan memelihara kasih sayang dalam rumah tangga.”Mappacci” berasal dari kata “pacci”, yaitu daun yang dihaluskan untuk penghias kuku, mirip bunyinya dengan kata “paccing” artinya bersih atau suci.Melambangkan kesucian hati calon pengantin menghadapi hari esok,khususnya memasuki bahtera rumah tangga meninggalkan masa gadis sekaligus merupakan malam yang berisi doa

Dalam kesustraan bugis terdapat pantun yang berbunyi :”Duwa Kuala sappo.unganna panasaenabelo kanukue”. Penjelasan pada kalimat ini yakni dalam bahasa bugis, nangka dinamakan “lempu” yang berati jujur.Sedangkan penghias kukunya mirip bunyinya “paccing” yang artinya bersih, suci. Jadi kesucian dan kejujuran merupakan benteng dalam kehidupan, karena kesucian adalah pancaran kalbu yang menjelma dalam kejujuran.Adapun peralatan dan perlengkapan “Mapacci” disini dapat sibagi atas tiga kelompok, yaitu : Benno dan Tai Bani (Patti) dan kelompok II tersiri dari : Bantal, sarung, daun pisang dan dau nangka. Benno yaitu beras yang digoreng kering hingga mekar melambangkan harapan, kiranya calon pengantin ini akan mekar berkembang dengan baik, bersih dan jujur. Dalam bahasa bugis disebut “Mpenno Rialei”. Sedang Tai Bani (Patti) merupakan lilin dari lebah, ini melambangkan suluh (penerang) dan kehidupan lebah artinya tata kehidupan bermasyarakat yang kita lihat dalam kehidupan lebih terlihat rukun, baik, tidak saling mengganggu satu sama lain. Artinya hendaknya menjadi suri tauladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara, Bantal (Pallungang) merupakan simbol kemakmuran.Pengertian khususnya sebagai pengalas kepala yang artinya penghormatan atau martabat, dalam bahasa bugis disebut “Mappakalebbi”. Mengenai Sarung (Lipa) yang disusun 7 lembar,maksudnya ialah debagai penutup tubuh (harga diri) juga karena sarung dibuat dari benang yang di tenun helai deni helai yang melambangkan ketekunan dam keterampilan. Menurut cerita dahulu kala jika mencari calon isteri, si pria tidak perlu melihat secara langsung si gadis tapi cukup dengan melihat hasil tenunannya rapi atau tidak. Bila tenunnannya rapi dan bagus maka pilihan pria akan jatuh pada gadis tersebut. Tujuh lembar melambangkan hasil pekerjaan yang baik.  Dalam bahasa bugis “Tujui” yang mirip dengan kata “Mattujui” artinya berguna.

Untuk daun pisang (Leko’ Unti), dilambangkan sebagai kehidupan yang sambung menyambung. Daun yang tua belum kering betul, daun muda telah muncul untuk menggantikan dan melanjutkan hidupnya. Dalam bahasa bugis disebut “Maccolli Maddaung” dan Daun nangka,(bugis = “Dau’ Panasa”), mirip sengan bunyi “Minasa” yang berarti cita-cita yang luhur. Selain kelompok I dan II, masih ada kelompok III yang terdiri atas Bekkeng, yaitu tempat daun pacci yang mengandung arti kesatuan jiwa atau kerukunan hidup dalam suatu keluarga dan daun pacci: itu sendiri yang melambangkan kesucian, diantaranya napacing hati(bersih hati), Napacing Jiwa(bersih jiwa), Napacing Nawa – nawa(bersih pikiran), Napacing panggaukang (bersih tingkah laku), Napaccing ateka’(bersih itikat).

Secara sederhana, jalannya upacara Mapacci adalah sebagai berikut:

  • Calon pengantin sudah duduk di lamming,atau bisa pula dalam kamar pengantin.
  • Kelompok pembaca barzanji (pabarazanji) sudah siap di tempat yang disediakan.
  • Para tamu telah duduk di ruangan.
  • Setelah protokol membuka acara, pembacaan barzanji sudah dapat dilakukan.
  • Sampai dibacakan “badrun alaina” (makassar : niallemi syaraka) maka sekaligus acara mapacci dimulai dengan sedikit mengambil daun pacci yang telah dihaluskan dan diletakan ditelapak tangan calon pengantin,sambil seorang ibu mendampingi calon pengantin, sementara itu barzanji tetap di bacakan.
  • Setelah semua tamu yang ditetapkan telah melakukan “Mapacci” maka seluruh hadirin bersama-sama mendoakan semoga calon pengantin direstui oleh Yang Maha Kuasa agar menjadi suri tauladan karena martabat dan harga dirinya yang tinggi.”Cukkong muwa minasae, nakkelo puwangnge naiyya ma’dupa”.
 
Upacara Adat Khitan

Upacara Appasunna (Khitanan Adat) di pangkep dikenal dua versi (H Djamaluddin Hatibu dkk, 1992) dikenal 2 versi, yaitu versi pertama, dengan urutan sebagai berikut :

  • Menre Baruga
  • Mammata-mata
  • Allekke Je’ne
  • Appassili
  • Nipasintinggi Bulaeng dan Nipasalingi
  • Appamatta
  • Khitanan (Nisunna)

Pada upacara khitanan adat versi pertama, acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan kedua karena sesudah acara menre baruga dapat sekaligus dilangsungkan acara mammata-mata mengingat pada acara menre baruga, anak yang akan di sunat bersama orang tua dan keluarganya telah duduk di lamming (pelaminan) dalam baruga, dan pada acara ini pula ditampilkan acara kesenian meski pelaksanaannya dilakukan pada siang hari.

Pada versi kedua, acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan keenam dan dilaksanakan pada malam hari dengan dirangkaikan malam ramah tamah. Lengkapnya versi kedua dengan urutan acara sebagai berikut :

  • Menre Baruga
  • Allekke Je’ne
  • Appassili
  • Nipasitinggi Bulaeng dan Nipasalingi
  • Appamatta
  • Mammata-mata/Ramah tamah
  • Khitanan

Menurut H Djamaludin Hatibu pada dasarnya keduaversi ini sama baiknya, tergantung dari orang yang melaksanakannya saja (H Djamaludin Hatibu dkk, 1992)

Anak yang akan di sunat berpakaian pagadu (tidak memakai baju, hanya sarung putih dan songkok putih berada di atas bembengan dengan di antar oleh kedua orang tuanya dan seorang pinati. Sebelum memasuki baruga terlebih dahulu anak yang akan di sunat beserta kedua orangtuanya, keluarga, kerabat serta rombongan menre baruga mengelilingi terlebih dahulu baruga sebanyak tiga kali,setelah itu baru bisa memasuki abruga melalui sapana(tangga) yang diatasnya terdapat hamparan taluttu(kain putih) pertanda penghormatan, kemudian si anak dijemput dengan hamburan benno, bente(bertih) menuju lamming, dibawah lellu yang sisi tiangnya dipegang oleh empat anak berpakaian pagadu. Tann si anak harus selalu memegang patteko (alat tenun) mulai dari rumah kediaman menuju ke baruga. Acara dapa dilanjutkan denan “mangngaru” di iringi “tunrung pakanjara”.selesai itu di akhiri dengan akkaddo, jamuan kue-kue tradisional.

Selama acara menre baruga berlangsung diiringi dengan gendang adat (gandrang) yang kemudian dilanjutkan dengan acara allekka Je’ne atau mallekkeWae, yaitu upacara pengambilan air pada sebuah sumur tertentu (sumur bertuah) untuk dimandikan pada anak yang di sunat. Kegiatan selanjutnya adalah appassili atau mappassili, yaitu upacara pensucian diri lahir dan batin. Dimaksudkan agar segala korban dan hal-hal yang di anggap tidak baik dapat dihilangkan.selesai di passili, si anak hanya mengenakan sarung.

 
Upacara adat Menre bola
Perwujudan konsep makro-kosmos terlihat pada rumah tempat tinggal orang bugis dan makasar yang selalu terdiri atas tiga bagian.Bagian atas rumah disebut rekkeang dan biasa di isi dengan padi atau hasil panen lainnya.Bagian tengah biasa disebut ale bola yang dihuni oleh manusia.bagian tengah disebut awa sao (awa bola) yang biasa dipakai untuk memelihara binatang ternak.Jika dalam konsep tentang alam ada kepercayaan tenntang pusat dunia atas serta pusat dunia tengah yang di sebut possi langi dan possi tana, pada rumah pun ada pusat rumah yang di sebut possi bola.yaitu salah satu tiang yang kedua dari depan dan terletak di samping kanan.itu pula sebabnya mengapa pada upacara adat menre baruga (menre bola), sesajen-sesajen yang seringkali diletakan di “Possi bola” karena di situlah roh-roh atau makluk gaib dianggap berkumpul, terutama jika ada kejadian dan peristiwa khusus dalam keluarga
 

Pencarian Data

Produk Hukum

Pada menu ini anda bisa melihat produk-produk hukum

                         Selengkapnya...

Agenda

« < Maret 2010 > »
M S S R K J S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Telepon Penting

RSU Pangkep          (0410) 2311118
Polresta Pangkep     (0410) 21110
Unit Pemadam         (0410) 113
Informasi Telkom      (0410) 21005
PDM                       (0410)
PLN                        (0410) 21066

Banner

  • pangkep.go.id
  • pangkep.go.id
  • pangkep.go.id
  • pangkep.go.id
  • pangkep.go.id
  • pangkep.go.id
Selamat Datang Di Website Kabupaten Pangkep
Pelayanan Pangkep Terbaik Hasil Survei Integritas KPK
Monday, 28 December 2009


JAKARTA -- Setelah Bappenas dan ICW melabeli Sulsel sebagai provinsi terkorup, kemarin giliran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melempar noktah hitam.

Hasil survei integritas yang dilakukan lembaga yang sempat diidentikkan dengan cecak (cicak) itu, Sulsel menempati posisi paling rendah dengan skor 4,75. Terburuk kedua ditempati Sulawesi Utara (4,80), dan DKI Jakarta (5,65). Lihat grafis.

Selengkapnya...
 
Menyusuri Pemeriksaan Hasil tes CPNS di UI Jakarta
Tuesday, 15 December 2009
Pangkep,-
Pemeriksaan yang di lakukan Universitas Indonesia (UI) Jakarta Pusat di lantai enam Kampus UI Jakarta pusat, nampaknya sangat ketat, bahkan dari pemeriksaabn tersebut, tidak boleh ada satu orangpun yang bisa masuk, hanya saja bisa di monitoring di sebuah ruangan, dengan melalui CCTV, yang bisa mnsuk pada ruang tertutup tersebut hanya yang memeriksa dari kalangan para dosen UI, yang di berikan tanggung jawab.
 
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 15 December 2009 )
Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 7 dari 138

Pariwisata

 Tari Pa’bissu, suatu budaya yang kini masih dipegang erat oleh sekelompok masyarakat Bissu untuk menghormati leluhur. Tarian ini, sangat menakjubkan karena dengan menggunakan sebilah keris dan menancapkannya di batang leher.     

Wakil Bupati

  

Polling

Bagaimana pendapat anda dengan KINERJA PEMKAB PANGKEP yang sekarang??
 

Info Waktu

Link

www.mpr.go.id
http://www.dpr.go.id
http://www.depdagri.go.id
http://www.kpk.go.id
http://www.sulsel.go.id

Pelayanan Masyarakat

      Pelayanan
  • Pelayanan Umum
  • Pelayanan Pajak
  • Pelayanan Retribusi
      Perizinan
  • Jenis Perizinan
  • Prosedur Perizinan 

Sekilas Info

Agenda Pemkab
 

Status Center

Saat ini ada 1 tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini32
mod_vvisit_counterKemarin398
mod_vvisit_counterMinggu ini812
mod_vvisit_counterBulan Ini3638
mod_vvisit_counterTotal216375